PASEKAN – Sandal jepit kini bukan sekadar alas kaki biasa. Barang universal yang dulu hanya berfungsi sebagai pelindung kaki ini telah bertransformasi menjadi karya seni, hiasan dinding, hingga suvenir unik.
Berbekal pensil dan silet (cutter), tiga pemuda asal Desa Pasekan—Yoga, Henri, dan Sandung—berhasil menyulap karet sandal jepit menjadi ukiran yang bernilai estetik. Meskipun berasal dari dusun yang berbeda, ketiganya memiliki ketekunan yang sama dalam membentuk pola gambar dan huruf di atas lembaran karet tersebut.
Keterampilan ini mereka pelajari secara otodidak dalam dua bulan terakhir. Berawal dari coba-coba, karya mereka ternyata mendapat respons positif dari masyarakat. Untuk menyelesaikan satu pasang sandal ukir, mereka membutuhkan waktu sekitar dua jam, tergantung pada tingkat kerumitan motifnya.
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau:
- Sandal jepit ukir: Rp25.000 – Rp30.000 per pasang.
- Hiasan dinding: Rp40.000 – Rp50.000.
Pemasaran produk dilakukan secara digital melalui akun Instagram @sandalukir7874. Melalui media sosial, pesanan tidak hanya datang dari warga sekitar, tetapi juga merambah hingga ke luar kota. Motif yang dipesan pun sangat beragam sesuai keinginan konsumen. "Sebagian besar memesan karakter kartun, ada juga yang hanya tulisan, bahkan siluet wajah," ungkap Yoga.
Selama dua bulan beroperasi, mereka telah memproduksi sekitar 60 pasang sandal. Melalui kreativitas ini, Yoga dan kawan-kawan berharap dapat meningkatkan ekonomi mandiri, menjadi inspirasi bagi pemuda lain di Desa Pasekan, serta menjadi wadah kegiatan yang positif.