PASEKAN – Bagi sebagian warga Dusun Tanjungsari, Desa Pasekan, keluar-masuk hutan sudah menjadi rutinitas harian. Aroma pohon pinus dan embun pagi merupakan kawan setia bagi mereka yang berprofesi sebagai penyadap getah pinus di lahan milik Perhutani, wilayah Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri.
Profesi ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang krusial bagi warga selain bertani. Semakin banyak getah yang dihasilkan, semakin terjamin pula kesejahteraan keluarga mereka.
Proses dan Teknik Penyadapan
Para penyadap telah menguasai teknik khusus untuk memastikan kualitas getah tetap terjaga:
- Teknik Nyecek: Penyadapan dilakukan dengan melukai batang pohon hingga ke bagian kayu (membuat cecekan).
- Waktu Operasional: Pekerjaan dimulai pada pagi hari untuk mengambil hasil getah atau memperbarui luka sadapan yang mulai mengering.
- Stimulasi Cairan: Untuk meningkatkan produktivitas, luka bekas sadapan disemprot dengan cairan kimia khusus setiap dua hari sekali agar getah keluar lebih deras.
- Manajemen Area: Setiap penyadap memiliki areal kerja masing-masing di dalam hutan kelolaan Perhutani.
Hasil dan Nilai Ekonomi
Bekerja sebagai penyadap getah pinus ternyata cukup menjanjikan:
- Produktivitas: Dalam waktu dua minggu, rata-rata penyadap mampu mengumpulkan sekitar 250 kg getah.
- Penghasilan: Dari hasil penjualan ke pihak Perhutani, mereka mampu mengantongi pendapatan rata-rata Rp1.500.000 per bulan.
Bagi warga setempat, profesi ini tidak kalah hebat dengan pekerjaan lainnya. Dengan prosedur yang benar dan ketekunan, menyadap getah pinus menjadi sektor yang menjanjikan kesejahteraan lebih bagi masyarakat perdesaan.