Gambaran Umum Dusun Jembul
Dusun Jembul merupakan bagian dari Desa Pasekan. Dusun Jembul berada di barat laut Desa. Dengan luas wilayah 106 ha. Secara administrasi wilayah Dusun Jembul hanya 1 Rukun Tetangga/RT yaitu RT 001.
Penggunaan Lahan Dusun Jembul
Di Dusun Jembul hampir 30 % atau 31,8 ha berupa permukiman, 70 % atau 74,2 ha berupa lahan pertanian. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan lahan yang dominan adalah lahan pertanian.
Kependudukan Dusun Jembul
Penduduk yang beraneka ragam dengan berbagai macam latar pendidikan, pekerjaan dan usia yang berbeda-beda. Berdasarkan data desa tahun 2018 jumlah penduduk mencapai 226 jiwa dan 78 KK. Dengan jumlah penduduk laki-laki 107 jiwa dan penduduk perempuan 119 jiwa.
Perekonomian Dusun Jembul
- Pertanian
Dusun Jembul sebagian perekonomian berasal dari pertanian baik sawah maupun tegalan. Kawasan pertanian yang luasnya 74,2 ha. Merupakan lahan produktif/subur dengan jenis sawah tadah hujan. Sebagian besar warga memiliki lahan pertanian diluar wilayah Dusun Jembul. Sawah tadah hujan ini mempunyai kekurangan yaitu dalam sistem pengairan disebabkan mengandalkan air hujan untuk pengairan sawah tersebut. Sawah jenis ini hanya dapat panen dalam jangka waktu satu tahun sekali.
- Industri rumah tangga
Keberadaan industri kecil rumah tangga membantu sektor perekonomian dan pendapatan masyarakat Dusun Jembul. Terdapat jenis industri rumah tangga di Dusun Jembul ini yaitu pengrajin tempe.
- Peternakan
Berdasarkan peta sebaran masyarakat Jembul sebagian mempunyai hewan ternak baik unggas, sapi dan kambing. Namun sebagian masih dalam skala kecil and masih dengan menggunakan kandang milik pribadi yang terletak didekat rumah.
- Perdagangan dan jasa
Sebagian kecil masyarakat Dusun Jembul memiliki usaha warung kelontong, jumlah warung kelontong sebanyak 3 buah serta usaha jual beli ternak. Dari bidang jasa ada beberapa orang yang menyewakan kendaraan karena tidak tersedianya akutan pedesaan.
Permukiman Dusun Jembul
Permukiman warga tumbuh secara alami dan kurang tertata akibat kondisi geografis yang berbukit. Mayoritas bangunan berupa rumah satu lantai dengan material bata/batako dan atap genteng tanah liat. Sekitar 1% rumah dikategorikan tidak layak huni karena masalah lantai tanah, dinding lapuk, atau ketiadaan MCK.